Menurunkan level kontaminasi mikrobiologi di dalam cleanroom adalah hal yang sangat penting dilakukan di industri yang mengutamakan standar higiene tinggi seperti industri makanan minuman, kesehatan dan farmasi. Tujuannya adalah untuk mengendalikan kontaminasi oleh mikroba tetap rendah sehingga tidak berisiko mencemari produk yang dibuat pada industri tersebut. Mengendalikan level mikrobiologi ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, antara lain menggunakan system HVAC yang dilengkapi filtrasi, personil yang dilatih dengan benar dan menggunakan pakaian atau alat khusus, mengembangkan berbagai teknik pembersihan misalnya dengan menggunakan detergen serta memilih cairan disinfektan yang tepat. Berikut adalah hal-hal yang harus diperhatikan saat melakukan proses disinfeksi mikrobiologi di dalam cleanroom.

  1. Beda membersihkan dan mendisinfeksi.

Membersih dan mendisinfeksi adalah dua hal yang berbeda. Membersihkan ruangan fokusnya adalah menghilangkan kotoran dari suatu permukaan umumnya adalah debu atau sisa material tumpah (organik/inorganic). Target pembersihan adalah permukaan tampak mata bersih atau sudah memenuhi standart pengukuran jika menggunakan instrument alat bantu inspeksi kebersihan. Sedangan disinfeksi adalah proses menurunkan level mikrobial ke tingkat tertentu dengan bantuan bahan kimia disinfektan. Secara praktis untuk mendapatkan hasil disinfeksi yang maksimal harus didahului dengan pembersihan yang optimal.

  1. Memilih pembersih yang tepat

Air adalah bahan pembersih yang paling bebas risiko, namun dalam banyak hal air tidak mampu memberikan hasil pembersihan yang maksimal. Oleh karenanya diperlukan bantuan beberapa bahan kimia seperti deterjen atau bahan asam basa (misalnya asam sitrat, soda api). Hal yang biasanya perlu diperhatikan dalam memilih diterjen adalah seberapa kuat deterjen dapat membantu melarutkan produk yang dibersihkan, sedikit busa, mampu penetrasi baik, netral dan mudah dibersihkan (dibilas). Dalam praktik pembersihan ini bisa juga dikombinasi dengan menaikkan perlakuan fisik antara lain temperatur, tekanan saat pengelapan serta penggunaan bahan abrasif.

  1. Memilih Disinfektan

Pilihan bahan disinfektan sangatlah banyak jenisnya. Secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua yaitu non sporosidal dan sporosidal. Bahan “non sporosidal” hanya dapat membuhun mikroorganisme yang dalam fase vegetatif-nya, sebaliknya bahan sporosidal dapat membunuh mikroorganisme baik dalam fase vegetative maupun struktur paling tahannya (spora). Artinya bahan sporosidal lebih agresif dibandingkan dengan yang non sporosidal. Agresif tidak hanya menyerang mikroorganisme, namun juga mempengaruhi permukaan/material yang kontak. Oleh karena itu memilih disinfektan harus melalui proses validasi sebelum digunakan untuk disinfeksi rutin di dalam cleanroom. Dokumen dari pabrikan disinfektan bisa membantu kita untuk melakukan validasi seperti COA dan MSDS. Tes validasi yang umumnya dilakukan pada disinfektan antara lain uji rendam dan kontak permukaan, uji semacam ini biasa disebut efektifitas terhadap mikroba (efikasi). Selain efek ke mikroba efek fisik ke permukaan juga perlu dilakukan seperti berkarat, merubah warna, meninggalkan sisa (residu) dll.

  1. Faktor yang mempengaruhi efektivitas disinfeksi :

Hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan efektivitas disinfeksi antara lain :

  • Mengenal zat aktif dan cara kerja disinfektan yang digunakan
  • Menentukan konsentrasi disinfektan
  • Menentukan pelarut yang tepat.
  • Memahami cara mengaplikasikannya
  • Memberikan waktu kontak yang cukup
  • Menentukan waktu disinfeksi secara periodic
  • Mempelajari keamanan penggunaannya

Penting untuk diingat bahwa meningkatkan kualitas pembersihan akan meningkatkan efektivitas disinfeksi. Pula memastikan apakah zat aktif tidak dilarang penggunaannya oleh pemegang regulasi.

  1. Monitoring proses disinfeksi

Untuk mengetahui apakah proses disinfeksi yang dilakukan sudah benar dan memang efektif kerjanya, perlu dilakukan juga monitoring microbial secara rutin. Misalnya bisa dengan melakukan sampling menghitung jumlah mikroba yang ada pada ruangan sebelum dan sesudah didisinfeksi. Data-data hasil monitoring yang terkumpul akan memberikan profil level mikrobial dari serangkaian kegiatan pembersihan dan disinfeksi, sehingga akan memberikan informasi kepada kita apakah harus dilakukan lebih sering atau mengurangi frekuensinya. Dengan demikian level mikrobialnya akan terkendali baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *