Cara Sterilisasi Ruang Laboratorium

Sterilisasi ruangan laboratorium merupakan sebuah prosedur untuk memisahkan benda (atau bahan) dari segala bentuk kehidupan (hingga ukuran mikro-organisme). Tujuannya tidak lain adalah agar peralatan serta bahan yang digunakan di ruangan laboratorium tidak terkontaminasi. Terutama dengan alat dan bahan yang langsung bersinggungan dengan sampel, tanpa sterilisasi hasil uji laboratorium akan kurang akurat.

Apabila mengikuti Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1204/MENKES/SK/X/2004, laboratorium bisa dikatakan steril apabila konsentrasi maksimum mikro-organisme tidak lebih dari 200-500 CFU/m3. Dengan indikator ini maka streilisasi ruangan labooratorium tidak dapat dilakukan sembarangan. Berikut prosedur sterilisasi yang sesuai dengan standar keamanan.

Jenis-Jenis Prosedur Sterilisasi Ruangan Laboratorium

  • Sterilisasi Mekanis (Filtrasi)

    Sterilisasi mekanis dilakukan dengan menggunakan semacam alat yang menyerupai saringan. Instrumen sterilisasi tersebut memiliki pori-pori yang sangat kecil (sekitar 0,22 mikron). Dengan ukuran pori-pori yang kecil tersebut maka mikroba akan terperangkap dalam alat. Biasanya sterilisasi mekanis diterapkan pada bahan yang sensitif terhadap panas.
  • Sterilisasi Fisik

    Prosedur sterilisasi fisik dapat dilakukan dengan dua cara berikut:1. Pemanasan

    – Pemijaran: Membakar alat secara langsung, biasanya sterilisasi untuk pinset, batang L, hingga jarum inokulum.
    – Panas Kering: Memanfaatkan oven dengan temperatur 60-180°C, biasanya sterilisasi untuk tabung Erlenmeyer atau alat berbahan kaca.
    – Uap Air Panas: Caranya dengan mengukus benda, biasanya untuk alat yang mengandung air agar tidak terjadi dehidrasi.
    – Auto-Clave: Sterilisasi dengan memanfaatkan uap air panas bertekanan.

    2. Penyinaran dengan Sinar UV

    Sterilisasi dengan memanfaatkan sinar ultraviolet biasanya digunakan pada interior safety cabinet untuk memusnahkan mikroba.

  • Sterilisasi Kimia

    Prosedur sterilisasi kimia menggunakan cairan disinfektan khusus seperti alkohol, formalin atau sublimat. Biasanya diterapkan pada alat yang cepat rusak seperti kateter.

  • Sterilisasi Gas

    Sterilisasi gas menggunakan pemaparan gas untuk mematikan mikro-organisme. Salah satu jenis gas yang bisa digunakan adalah hidrogen peroksida. Sterilisasi dengan hidrogen peroksida seperti BaskumaÔ Pro Dry Mist mampu membunuh mikro-organisme yang sulit dijangkau. Metode ini juga cocok untuk bahan yang tidak tahan panas, cahaya, radiasi, dan tidak dapat difiltrasi.

 

Sebaiknya Pilih Prosedur Sterilisasi yang Mana?

Dari bermacam-macam metode sterilisasi ruangan laboratorium yang telah dijelaskan, Anda mungkin merasa kesulitan untuk menentukan mana kira-kira prosedur yang tepat. Berikut beberapa hal yang dapat dijadikan pertimbangan.

  • Stabilitas prosedur. Perhitungkan apakah alat atau bahan akan berubah kondisi fisiknya setelah melalui proses sterilisasi. Jika iya, sebaiknya pilih metode yang lebih aman. Misalnya untuk sterilisasi kateter, hindari sterilisasi dengan panas karena bisa merusak benda.
  • Hitung kembali, apakah prosedur yang dipilih dapat memberikan hasil yang efisien. Sebagai contoh, untuk sterilisasi ruangan laboratorium pilih sterilisasi dengan gas hidrogen peroksida daripada senyawa desinfektan karena prosesnya otomatis.
  • Waktu. Pilih prosedur sterilisasi yang memang durasinya sesuai dengan bentuk zat, jenis zat, dan sifat zat. Perhatikan pula kecepatan alat steril untuk dapat bekerja secara merata.

 

Beberapa Hal yang Harus Diperhatikan Saat Sterilisasi Ruangan Laboratorium

Sebelum melakukan sterilisasi ruangan laboratorium, ada baiknya memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Pastikan peralatan steriliasasi dalam kondisi baik dan siap digunakan.
  • Pisahkan alat dan bahan sesuai dengan metode sterilisasi yang tepat.
  • Lakukan desinfeksi terlebih dahulu pada alat dan bahan yang akan disterilkam.
  • Beri label pada peralatan yang dibungkus (biasanya peralatan yang melalui sterilisasi fisik).
  • Lakukan sterilisasi sesuai prosedur, jangan menambahkan materi lain selama proses sterilisasi berlangsung.
  • Jika benda atau bahan berubah kondisi fisiknya setelah sterilisasi, sebaiknya tidak dipergunakan kembali.

Sterilisasi ruangan laboratorium wajib dilakukan. Ini karena ruangan laboratorium sensitif dengan mikro-organisme yang berpotensi menjadi zat kontaminasi. Dari sini Anda dapat mengetahui sekaligus memilih mana prosedur sterilisasi ruangan laboratorium yang paling tepat. Selamat mencoba!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *